Sunday, April 19, 2015

PEKALONGAN NITE RIDE

 
"Senajan Urip Iku Abot Pitmu Kudu Terus Digenjot"

Siapapun ridernya, apapun Sepedanya, mari kita bersepeda bersama.

Nite Ride dilaksanakan hari sabtu malam terakhir setiap bulannya. Siapapun boleh ikut spontanitas tanpa syarat apapun cukup membawa sepeda.
Titik Kumpul di lap. Mataram Pekalongan depan Gedung Kejaksaan jam 19.00 WIB.









  


Wednesday, April 15, 2015

Sayang, Kelak Kita Menikah di Ranukumbolo ya

Photos by Damario Octa W.
Aku selalu percaya tidak ada yang kebetulan di dunia. Kegemaranmu mendaki serta bujukanmu untuk mengajakku ikut serta, contohnya. Sedari awal kita bertemu menapaki puncak-puncak gunung memang sudah menempati posisi tertinggi di hatimu. Katamu mendaki menjadikanmu manusia seutuhnya. Dengan kegiatan yang membuat kaki pegal itu kamu justru bahagia.

Sebagai gadis yang mendampingimu, aku cukup tahu diri untuk tidak merengek agar selalu jadi nomor satu. Tapi setelah sekian lama kita bersama, setelah banyak puncak tertinggi yang kita jamahi berdua | bolehkah aku minta satu hal padamu, pria pendaki tersayangku?

"Bolehkah jika kita kelak menikah di Ranu Kumbolo?"

Kau harus menyisihkan waktu untuk jogging setiap hari, renang beberapa kali seminggu sebelum datang melamarku

Aku tak ingin kita menjadi pasangan hidup dalam kukungan tembok dan atap gypsum. Hidup terlalu singkat untuk dilewati dengan pernikahan yang isinya hanya makan, senyum manis dan bersalaman. Ada lebih banyak lapis yang hidup ini tawarkan | lebih dari sekedar resepsi, menyalami tamu undangan yang sebagian besar kita tak kenal.

Semoga kamu pendaki yang handal. Punya otot kaki dan tangan yang pejal. Sebab kelak aku ingin mengajakmu menikah di Ranu Kumbolo. Biar danau di tengah Mahameru dan burung-burung belibis yang menjadi saksi bagaimana kita sepakat menjadi tua bersama.


Photos by Damario Octa W.
Sebab apa yang lebih indah dari mengikat janji di tengah alam raya? Tempat yang mampu membuka tabir paling jujur kita sebagai manusia.

Berdua, jalur Ranu Pani akan kita akrabi bersama. Ranu Kumbolo dan Mahameru membuat kita jadi manusia yang kuat dan tebal sabarnya

Berdua akan kita akrabi jalur Ranu Pani, melewati jalan setapak yang batanya tinggal separuh itu. Mengenakan carrier dengan rain cover  warna seragam, hanya berbeda ukuran. Kita akan berjalan depan belakang, kamu yang memimpin perjalanan. Sedang aku tetap saja tak hapal arah jalan.

Sesekali akan kuteriakkan kata, "Break!" setiap udara di paru-paru terasa makin menipis cadangannya. Tanpa keberatan kau akan memperlambat langkah. Sigap kau cari tanah datar tempat kita bisa meletakkan barang untuk kemudian sejenak saling bersandar.

Tahukah kamu, kenapa Ranu Kumbolo jadi tempat sempurna untuk mengukuhkan cinta kita? Sebab di sana kita akan di didik untuk tidak lagi membawa batu di kepala. Kau dan aku harus bekerjasama, demi bisa sampai di tanah yang kita idamkan berdua.

Pernikahan ala Ranu Kumbolo ini minim wangi parfum menyengat dan dekorasi mewah. Meski diliputi bau keringat, kau dan aku merasa inilah kebahagiaan paling berlimpah


Photos by Damario Octa W.
Penghulu kita adalah mantan pendaki yang entah bagaimana justru menemukan takdirnya di KUA. Ia sudah membangun tenda terlebih dahulu disana. Ditemani beberapa rekan kita yang rela hari tenangnya diganti keriuhan memasak sarden di atas kompor parafin.

Saat kita datang, mereka akan berjejer dengan kaus dan celana lapangan. Beserta sepatu pendakian. Tak ada aroma parfum menyengat yang menyapa hidung. Bau keringat hasil berjalan jauh memenuhi pembuluh. Tidak akan kita temukan poles riasan cantik dan dekorasi mewah. Burung belibis yang berenang di tengah danau jadi satu-satunya hiasan tambahan. Kau dan aku justru akan saling mengirim tatapan penuh sinyal, lirikan berlapis senyuman.

Selepas kau ucap, "Saya terima nikahnya" - Kabut seakan bekerjasama mengelilingi tenda. Membiarkanmu mencumbuiku tanpa lagi khawatir dosa


Tak perlu waktu lama, hingga kau ucap "Saya terima nikahnya". Satu kali hela nafas, ringkas.
Terbiasa mengakrabi alam membuatmu tak kesulitan mengatur debaran. Sedang aku hanya menuduk, tak percaya bila kini nama belakangmu sudah sah disematkan. Guyonan teman-teman membuat ketegangan segera menghilang. Sore sudah mulai datang, kita pun sibuk memasak air hangat demi menyeduh cokelat kemasan.

Kita habiskan senja itu di Ranu Kumbolo. Tanpa es buah, minus organ tunggal, tanpa hidangan mewah. Tapi kau dan aku merasa inilah bahagia paling berlimpah.

Saat kabut mulai turun mengembuni tenda, sigap kita tutup pintu tenda di belakang. Lampu berdaya 3 baterai besar sepakat kita matikan. Kubuka sleeping bag yang kini sudah lebih besar, agar kita bisa tidur berdempetan, berbagi kehangatan.

Seperti pria selayaknya, kau pun mencumbui aku tanpa lagi takut dosa. Malam ini tangan dan pejalnya ototmu yang punya kuasa. Aku terlarut dalam ketuk yang kau cipta, tak lagi punya daya.


Photos by Damario Octa W.

Esok pagi akan kita hela etape menuju Kali Mati. Curamnya trek Arcopodo, tanjakan pasir, dan gagahnya Mahameru sudah menanti


Photos by Damario Octa W.
Selepas malam pertama, kau menggamit tanganku melewati tanjakan cinta. Sedikit jumawa, akan kita percundangi mitos yang ada. Sering-sering kita tengokkan kepala ke belakang. Toh sekarang kau dan aku sudah tak terpisahkan.

Lavender di Oro-Oro Ombo jadi saksi kecup-kecup luapan kebahagiaan. Tanjakan selepasnya tak lagi terasa memberatkan. Sudah ada lenganmu yang sanggup jadi pegangan.

Dalam tenda kita di Kalimato, kubisikkan padamu jika malam ini kita harus lebih tau diri. Malam ini, walau keinginan saling merengkuh sulit dihindari - kita harus tetap menyimpan energi.

Tengah malam nanti akan kubangunkan kau dengan harum roti bakar mentega.

"Kita siapkan jiwa, untuk mengadang pasir dipuncak tertinggi para dewa"


Photos by Damario Octa W.


Wednesday, March 4, 2015

STOP GLOBAL WARMING!

Photos by Arfina
Kertarajasa "Si Pembangun Gedung", demi ketenaran dan bisnisnya ia tidak memikirkan kondisi alam bumi kita yang semakin lama semakin panas akibat. Sayangilah bumi kita, jaga kelestarian alam dengan tidak menebang pohon sembarangan.

Sunday, February 22, 2015

Gunung Prau

Photos by Damario Octa W.

Gunung Prau merupakan salah satu puncak di Dataran Tinggi Dieng yang tingginya 2.565 mdpl. Gunung Prau adalah salah satu tempat yang tepat untuk belajar mendaki gunung. Jalur trekkingnya tidak terlalu panjang, sampai ke puncak cukup ditempuh sekitar 3 jam dari basecamp di desa Patak Banteng.

Gunung Prau memamng bukan gunung berapi aktif, sehingga bisa kemping di puncaknya. Prau juga merupakan salah satu gunung dengan puncak terluas di Indonesia dan bisa menampung ratusan pendaki sekaligus. Jadi, tidak perlu heran akan melihat lautan tenda di Prau pada akhir pekan. Sekarang basecamp-nya pun juga banyak kurang lebih ada 3 basecamp. Ini untuk mengurangi jumlah kuota yang membludak di basecamp utama.

Saat berada di puncak pada malam hari suhu sangat ekstrem, bisa mencapai 5 derajat celcius. Bahkan sangat disarankan untuk penderita Hypotermia tidak dianjurkan untuk mendaki ke puncak gunung Prau. Akibatnya sangat fatal apabilamelanggar aturan itu apabila tidak ditangani secara serius.

Puncak gunung Prau menyajikan panorama alam yang sangat indah saat pagi hari, yaitu melihat sunrise dengan keindahan awan perubahan malam ke pagi hari dan keindahan gunung Sindoro-Sumbing apabila cuaca mendukung. Terlihat pula puncak-puncak Gunung Merbabu dan Gunung Merapi. Tetapi semua juga tergantung pada kondisi cuaca yang memungkinkan.

Photos by Damario Octa W.
Begitu pula saat malam hari, ketika diatas puncak cuaca bagus akan melihat keindahan langit bertaburan bintang. Selain itu juga akan melihat keindahan lampu-lampu desa Dieng, apalagi saat terang bulan bisa mengabadikan momenmu saat malam hari tanpa merasa kecewa dengan hasil fotonya.

Photos by Damario Octa W.

Danau Ranu Kumbolo


Photos by Damario Octa W.
Ranu Kumbolo adalah sebuah danau gunung di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Letaknya di Pegunungan Tengger, di kaki Gunung Semeru. Luasnya 15 hektar. ranu Kumbolo adalah bagian dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Danau Ranu Kumbolo adalah salah satu dari beberapa danau yang ada di GUnung Semeru Mahameru yang berada di kawasan jalur pendakian menuju Gunung Semeru Mahameru. Karena keindahan alamnya sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi pendaki selain gunung Semeru dan sebagai lokasi basecamp para pendaki sekedar melepas lelah. Danau ini memiliki luas sekitar 8 hektar dengan ketinggian 2.390 mdpl.

Di Ranu Kumbolo saat pagi hari udara sangat dingin bahkan bisa mencapai 0 derajat celcius, namun hal ini tidak menjadikan para pendaki semeru putus asa justru menjadi daya tarik tersendiri karena di lokasi inilah mereka merasakan kenyamanan dan ketentraman dari hiruk pikuk keramaian metropolitan. Keindahan lain yang bisa dirasakan di Danau ini adalah sunrise yang muncul dari sela-sela bukit seakan menghipnotis mata ini untuk tidak sekedip pun untuk berpaling dari sang surya.

Saat matahari mulai menampakkan wujudnya, moment inilah yang sangat ditunggu, para pengunjung bersorak ria serta tak lupa mereka berebut untuk bisa mengabadikan disetiap detik moment munculnya mentari di pagi hari.

Danau Ranu Kumbolo hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama 3-4 jam dari ranu pane atau pintu masuk jalur pendakian Gunung Semeru, Kecamatan Senduro, Lumajang, Jawa Timur. Jarak antara Ranu Pani ke Danau Ranu Kumbolo sekitar 10 km dengan medan pendakian relatif sedikit naik turun.

Menutur Kepala Balai Besar TNBTS bahwa kawasan Bromo Tengger Semeru, selain terdapat Danau RAnu Kumbolo juga memiliki keindahan lain yang mungkin salah satu destinasi terbaik dikawasan itu seperti padang savana, laut pasir, hingga hutan hujan tropis.

Sesuai peraturan yang dibuat bahwa setiap pendaki atau wisatawan yang camp di sekitar danau Ranu Kumbolo diharuskan menjaga kebersihan dengan cara membawa kembali sampah bekas bungkus makanan yang mereka bawa menjadi bekal saat trekking.